Riyuhars’s Blog


Susu Sapi
11 Maret 2009, 8:39 am
Filed under: Uncategorized

Sapi perah adalah salah satu hewan ternak penghasil susu. Tingginya produksi susu yang dihasilkan mampu mensuplai sebagian besar kebutuhan susu di dunia dibanding jenis hewan ternak penghasil susu yang lain seperti kambing, domba dan kerbau, maka dari itu sapi perah mempunyai kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan susu yang terus meningkat dari tahun ketahun.

Susu adalah bahan makanan yang mempunyai kandungan gizi cukup tinggi karena mengandung zat makanan seperti vitamin, protein, lemak, karbohidrat dan mineral yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan. Tetapi perlu diingat pula bahwa susu merupakan media yang sangat mudah untuk tempat berkembangnya mikroorganisme, sehingga keberadaan mikroorganisme dalam susu dapat dengan mudah merusak komposisi susu sehingga membahayakan kesehatan seseorang yang mengkonsumsi susu tersebut seperti terjadi baru-baru ini adanya susu beracun yang beredar di pasaran.

resize-of-502463512_0d46b85f7f
sapi-perah

Produksi dan komposisi susu yang dihasilkan sapi perah dipengaruhi oleh banya faktor antara lain :

* Jenis ternak dan keturunannya. Jenis ternak sangat bepengaruh terhadap produksi dan komposisi susu yang dihasilkan. Misalnya susu yang dihasilkan oleh sapi perah berbeda dengan susu yang dihasilkan oleh kambing atau domba baik dari segi jumlah produksi maupun komposisi susu. Tidak hanya jenis ternak saja, keturunan yang berbeda juga sangat berpengaruh, bisa jadi susu yang dihasilkan dari jenis sapi perah yang sama tetapi dari keturunan yang berbeda akan berbeda pula jumlah produksi dan komposisi yang terkandung dalam susu.
* Tingkat laktasi. Setiap tingkat laktasi produksi dan komposisi susu akan mengalami perubahan. Perubahan terbesar akan terjadi pada permulaan dan terakhir periode laktasi.
* Umur ternak. Biasanya puncak produksi susu terjadi pada saat umur 8-10 tahun, walaupun pada umur 5-6 tahun produksi susu juga sudah mulai meningkat. Umur ternak erat kaitannya dengan periode laktasi. Sehingga dapat dilihat pada permulaan laktasi pasti produksi susu lebih tinggi dibanding pada saat akhir laktasi.
* Kesehatan Ambing. Kesehatan ambing perlu diperhatikan oleh para petrnak. Karena ambing adalah alat vital yang sangat berpengaruh terhadap produk susu yang dikeluarkan. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah produksi susu akan menurun dan komposisi susu akan berubah drastis akibat peradangan yang terjadi pada ambing atau yang biasa disebut “Mastitis”
* Pakan/nutrisi. Pakan yang terlalu banyak konsentrat menyebabkan kadar lemak susu menjadi rendah, sedangkan jenis pakan dari hijauan yang berupa rumput-rumputan yang dapat menaikkan kadar lemak yang terkandung dalam susu. Pemberiaan air pada sapi perah juga penting untuk menunjang kelangsungan hidup dan produksi susu karena susu 87 % terdiri dari air dan 50 % dari tubuh sapi juga terdiri dari air. Air yang dibutuhkan untuk seekor sapi sekita 37-45 liter/hari.
* Lingkungan. Biasanya pada musim hujan produksi susu akan meningkat karena adanya ketersediaan pakan yang lebih dibanding musim kemarau, kandungan lemak susunya juga akan meningkat, sedangkan pada musim kemarau kandungan lemak susu akan cenderung lebih rendah. Suhu dan kelembaban lingkunga juga mempengaruhi produksi susu. Pada lingkungan yang tingkat kelembabannya tinggi sangat beresiko akan timbulnya infeksi bakteri yang akhirnya menyebabkan mastitis pada ambing. Suhu lingkungan yang tinggi akan menurunkan konsumsi pakan yang dapat berpengaruh pada menurunnya produksi susu tetapi belum jelas apah hal tersebut juga berpengaruh terhadap komposisi susu yang dihasilkan.
* Prosedur pemerahan. Jumlah pemerahan, lama pemerahan, dan waktu pemerahan juga sangat berpengaruh terhadap produksi dan komposisi susu. Pemerahan yang dilakukan pada pagi hari akan mendapatkan susu dengan komposisi yang sedikit berbeda dengan susu hasil pemerahan pada sore hari.

Komponen-komponen yang terdapat dalam susu :

* Air. Air adalah komponen terbesar karena 87 % dari keseluruhan komponen susu terdiri dari air. Air tersebut sebagian dihasilkan dari air yang diminum oleh sapi setiap harinya.
* Lemak. Kadar lemak normal yang terkandung dalam susu berkisar 3,45 . Kadar lemak sangat menentukan nilai gizi dari air susu. Bahan makan olahan dari susu yang banyak mengandung unsur lemak adalah : keju, mentega, krim, susu kental manis dan susu bubuk. Berat jenis susu berada pada kisaran 0,93 dan lebih ringan dari berat jenis air. Hal ini menyebabkan lemak akan mengapung dan membentuk lapisan di permukaan air susu apabila air susu didinginkan.
* Protein. Kadar protein dalam susu rata-rata sekitar 3,20 % , karena 26,50 % dari bahan kering susu adalah protein. Protein dalam air susu juga merupakan penentu kualitas air susu sebagai bahan yang layak untuk dikonsumsi.
* Laktosa. Laktosa adalah bentuk karbohidrta yang terdapat dalam susu. Bentuk ini tidak terdapat dalam bahan makanan yang lain. Kadar laktosa dalam susu adalah 4,60 %. Laktosa terbentuk dari glukosa dan galaktosa, laktosa itulah yang membuat rasa susu menjadi sedikit manis.
* Vitamin dan enzim. Kadar vitamin dalam susu tergantung dari pakan yang diberikan pada sapi setiap harinya dan waktu laktasinya. Vitamin diukur dengan satuan Internasional Unit (IU). Vitamin yang larut dalam susu termasuk vitamin B komplek, vitamin C, vitamin A, provitamin A, vitamin D, dan yang terpenting adalah vitamin B1 dan B2, asam nikotinat dan asam pantotenat. Enzim berfungsi untuk mengolah susu menjadi bahan lain . enzim yang terkenal antara lain : peroxydase, reductase, katalase dan phospatase. Adanya pemanasan menyebabkan enzim tidak berfungsi lagi.



BIBIT SAPI PERAH
18 Februari 2009, 5:39 am
Filed under: Uncategorized

Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan budidaya sapi perah yang saling terkait satu sama lain diantaranya pemeliharaan (budidaya), pakan dan pembibitan. Pemeliharan dan pakan yang baik tentu akan meghasilkan produksi yang baik dengan didukung pembibitan yang baik pula. Bibit sapi yang baik sangat penting untuk diperhatikan ketika akan melakukan budidaya sapi perah. Pemilihan bibit sapi perah meliputi pemilihan bibit dara yang nantinya akan menghasilkan produksi susu dan pemilihan bibit pejantan.grazing-cow-1b

Pemilihan Bibit Dara

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:
(a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok,puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.

Pemilihan Bibit Pejantan
bull3
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat,bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.



Bangsa-bangsa sapi potong di jawa timur
16 Februari 2009, 8:38 am
Filed under: Uncategorized

supercows13hq5
Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan populasi sapi po-tong terbesar di Indonesia. Populasi sapi potong Indonesia pada tahun 2002 sebesar 10,436 juta ekor, ternyata sebanyak 28,90 % berada di Jawa Timur ; komposisi populasinya : 46,40 % sapi lokal (terdiri 33,50 % PO ; 63,50 % Madura ; 3,00 % Bali (Anonimus, 2003c)) dan 53,60 % sapi yang tidak teridentifikasi turunannya (undeter-mined breed).

Bangsa adalah tingkatan pengelompokan hewan dalam sistematika atau taxonomi, dimana hewan tersebut telah mempunyai ciri khas tertentu yang diwariskan seutuhnya ke keturunannya (Hardjosubroto dan Astuti, 1994). Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina lo-kal di Jawa yang berwarna putih (Anonimus, 2003b). Saat ini sapi PO yang murni mu lai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi POdiartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik (Affandhy dkk., 2002).

Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (Anonimus, 1987). Karak-teristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba (Hardjosubroto, 1994).Sapi Bali, menurut Hardjosubroto dan Astuti (1994) adalah bangsa sapi po-tong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari banteng (Bibos banteng) yang telah dijinakkan berabad-abad yang lalu. Sapi Bali mempunyai angka reproduksi yang ting gi, tingkat adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi pakan yang jelek dan lingkungan yang panas serta mempunyai % karkas dan kualitas daging bagus (Anonimus, 1985). Kelemahan sapi Bali adalah rentan terhadap penyakit jembrana dan MCF serta tingkat kematian pedet pra sapih yang mencapai 15 sampai 20 % (Anonimus, 1987). Warna bulu merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa ; ada warna pu-tih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki ba wah mulai tarsus dan carpus ; mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung (Hardjosubroto, 1994).Sapi silangan yang paling diminati peternak di Jatim adalah sapi SIMPO dan LIMPO. Hal ini tampak pada realisasi distribusi straw sapi Simmental dan Limousin tahun 2002 mencapai 556.945 dosis atau sebesar 89,42 % dari total distribusi straw tujuh bangsa sapi yang ada (Anonimus, 2003c). Sapi SIMPO dan LIMPO di Jawa Timur mempunyai performan pertumbuhan prasapih dan pasca yearling yang lebih bagus dibanding sapi PO ; sebagai induk mampu mencapai umur pubertas lebih awal, tetapi efisiensi reproduksinya lebih rendah dibanding PO; sebagai pejantan, mempunyai kualitas semen lebih rendah dibanding sapi PO (Affandhy dkk., 2002).Sapi SIMPO tidak bergumba dan tidak bergelambir ; warna bulu merah bata, merah tua atau coklat muda, putih kekuningan dan doreng (loreng hitam, putih, me-rah bata dan coklat). Ciri khas sapi SIMPO adalah ada warna bulu putih berbentuk segitiga diantara kedua tanduknya. Sapi LIMPO tidak berpunuk dan tidak bergelambir ; warna bulunya hanya coklat tua atau kehitaman dan coklat muda. Rata-rata karak teristik morfologi kuantitatif sapi SIMPO dan LIMPO yang dipelihara peternak rak-yat di Jateng, DIY dan Jatim, tercantum dalam Tabel 1.Sapi Ongole berasal dari India, termasuk bangsa Bos indicus, tipe sapi kerja dan pedaging (Siregar dkk., 2003), disebarkan di Indonesia sebagai sapi Sumba Ongole (SO) melalui grading up dengan induk sapi jawa dihasilkan sapi Peranakan Ongole (Hardjosubroto dan Astuti, 1994). Warna bulu sapi Ongole putih abu-abu de ngan warna hitam disekeliling mata, mempunyai gumba dan gelambir yang besar menggelantung, saat mencapai umur dewasa yang jantan mempunyai berat badan kurang dari 600 kg dan yang betina 450 kg (Atmadilaga, 1983). Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg (Anonimus, 2002b). Sapi Limousin adalah bangsa Bos turus (Talib dan Siregar, 1999), dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda (Anonimus, 2002b). Secara genetik, sapi Simmental atau Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Anonimus, 2002b) ; sedangkan sapi Ongole adalah tipe sedang yang berasal dari daerah beriklim panas, merupakan sapi tipe kecil sampai sedang sehingga dapat dikembangkan pada kondisi tatalaksana pemeliharaan yang ekstensif (Atmadilaga, 1983).



JENIS-JENIS SAPI
16 Februari 2009, 8:06 am
Filed under: Uncategorized

1. Limousine : merupakan keturunan sapi eropa yang berkembang di Perancis, sapi jenis ini merajai di pasar-pasar sapi Indonesia dan merupakan sapi primadona untuk penggemukan, harganya mahal karena mempu tingkat pertambahan.badan.yang.cepat.perharinya.yaitu.1,1.kg.
image0025
2. Charolais : sapi jenis ini juga dikembangkan di negara Perancis, warna bulu perak dan merupakan jenis paling besar di negara tersebut, jarang di jumpai di pasar-pasar.tradisional,.pertumbuhan.badan.perhari.bisa.1,3.kg.
image0044
3. Hereford : sapi ini juga turunan dari sapi eropa yang dikembangkandi Inggris, berat.jantan.rata- rata.900.kg.betina.725.kg .
image0063
4. Shorthorn :sapi ini sama dengan hereford yaitu dikembangkan di negara Inggris.bobot.jantan.rata-rata.1100.kg.betina.850.kg
image0083
5. Simmental : sapi ini berasal dari lembah simme negara switzerland, tapi banyak dikembangkan di australia dan selandia.baru,bobot.jantan.ratarata1100kgbetina800kg. Sapi.ini.banyak.kita.jumpai.di.pasar.pasar.tradisional.
image0103
6. Brahman : sapi ini berasal dari india, namun banyak dikembangkan di amerika, yang masuk di indonesia adalah dari amerika, bobot jantan maksimum 800 kg dan betina 550.kg
image0123
7. Aberdeen Angus.: sapi ini masuk di indonesia melalui negara selandia baru, tapi asal sapi.ini.dari.skotlandia,bobot.jantan.rata- rata.900.kg.betina.700.kg
image0143
8. Brangus.: sapi ini berasal dari persilangan betina brahman dengan jantan Aberdeen angus.
image0163
9. Santa Gertrudis : sapi ini persilangan dari jantan brahman dengan betina shorthorn, di kembangkan pertama kali di King Ranch Texas AS tahun 1943, tahun 1973 masuk indonesia.Bobot.jantan.rata-rata.900.kg.betina.725.kg.
image0183
10. Droughmaster.:merupakan persilangan antara betina brahman dengan jantan shorthorn, dikembangkan di Australia. Jarang kita jumpai di Indonesia
image0203



peternakan
9 Februari 2009, 7:02 am
Filed under: Uncategorized


BUNTING TIDAKNYA SAPI
21 Januari 2009, 3:31 am
Filed under: Uncategorized

.ssssssssbagi peternak kecil buntingnya sapi adalah hal yang paling ditunggu. namun banyak kendala yang menyebabkan terlambatnya peternak mengetahui sapi yang dimiliki bunting atau tidak. diantaranya adalah tidak taunya peternak mengenai tanda-tanda sapi bunting pada awal bulan. peternak hanya tau jika memanggil mantri untuk mempalpasi sapi terset 2-3 bulan setelah dikawinkan. padahal semua sapi bunting memiliki tanda-tanda yang hampir sama pada 2 bulan pertama setelah dikawinkan. tanda-tanda inilah yang harus dicari tau dan dicermati oleh peternak tersebut agar tidak menuggu terlalu lama untuk mengetahui sapi miliknya bunting atau tidak



RUMINANSIA
14 Januari 2009, 3:55 am
Filed under: Uncategorized

Jepang Berhasil Mengkloning Kerbau Legendaris
Jum’at, 9 Januari 2009 – 14:32 wib
text TEXT SIZE :
Share
Sarie – Okezone
Dua ekor kerbau kloning di Jepang (foto: AFP)

TOKYO – Ilmuwan Jepang berhasil mengkloning seekor kerbau yang dikenal sebagai maskot sebuah merek daging ternama di Jepang. Keberhasilan ini juga membuka kemungkinan bagi Jepang untuk mengonsumsi daging dari hewan kloningan.gdbxxpm6zo

Di awal tahun kerbau ini, para peneliti Jepang mengawalinya dengan keberhasilan mereka mengkloning Yasufuku. Ini merupakan nama sebuah kerbau legendaris bagi merek daging kalengan ternama di Jepang Hida-Gyu. Melalui bantuan testis almarhum Yasufuku, yang sebelumnya telah didinginkan selama 13 tahun, para peneliti itu akhirnya sukses menghadirkan empat ekor kerbau Yasufuku hasil kloningan.

Para peneliti dari Universitas Kinki dan institut penelitian Gifu berhasil menghadirkan empat ekor Yasufuku setelah melalui penelitian dalam kurun waktu November 2007 hingga Juli 2008. Sayangnya, dua di antara empat kerbau kloningan tersebut meninggal setelah sempat menghirup udara selama satu bulan.

“Testis almarhum Yasufuku telah kami dinginkan terlebih dahulu selama lebih dari setahun, tanpa perawatan khusus,” ujar ketua tim peneliti, seperti dilansir melalui AFP, Jumat (9/1/2008).



SAPI
14 Januari 2009, 3:46 am
Filed under: Uncategorized

.images1sapi adalah hewan yang sangat dibutuhkan oleh semua orang baik dari tenaga, daging dan susu. daging merupakan sumber protein hewani yang penting bagi tubuh sehingga daging diperlukan oleh orang setiap saat



BUDTER RUMINANSIA
26 Januari 2008, 6:33 am
Filed under: Uncategorized

SMK N 1 Mojosongo adalah sekolah pertanian yang memiliki beberapa jurusan. Salah satu  jurusan itu adalah budter ruminansia.  Budter ruminansia adalah jurusan yang mempelajari tentang pembudidayaan ternak besar.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.